This entry is part 2 of 15 in the series In Memoriam

Rani Elisabeth mengirimkan kepada kami, foto dan cerita Cha Bong Gun, kucing kesayangannya yang kini sudah tiada (-Red)

Hai, saya sangat suka membaca blog anda. Saya juga pecinta kucing dan saya betul-betul menyukai cerita yang ada di blog anda. Karena blog anda juga menerima cerita dari pembaca, saya jadi ingin berbagi cerita tentang kucing saya.

Ini adalah anak kucing jantan, saya namakan Cha Bong Gun. Waktu itu keluarga saya sedang demam drama korea dan nama itu diambil dari tokoh utama pemain bola di drama itu. Saya namakan itu karena dia sukaaaaaaaaaa sekali main bola kertas yang saya buat.

Cha Bong Gun ini adalah anak semata wayang. Waktu induknya melahirkan memang cuma keluar satu saja si Cha Bong Gun ini. Saya juga merekam kelahirannya.

Karena cuma sendirian, dia tidak punya teman bermain sejak kecil dan menjadikan kami sebagai mainannya. Dia senang melompat ke pundak kami, mengacak-acak pekerjaan kami, mengasah kuku di celana jeans kami, menggigiti jari dan lengan kami saat kami sedang bekerja, mengambil bolpoin yang sedang kami gunakan dan menghilangkannya entah kemana.

Suatu hari saya meremas kertas dan melemparnya ke tong sampah, tak disangka dia menampar gulungan kertas itu sebelum sampai di tempat sampah, menendangnya lalu mengejarnya. Setelah agak jauh, dia gigit bola kertas itu kembali pada saya dan minta saya melemparkannya lagi. Sejak saat itu setiap kali dia mencari perhatian dengan mengganggu pekerjaan kami, saya selalu membuat bola kertas dan dia puas bermain dengan itu walaupun hanya sebentar saja bola itu sudah hilang entah kemana dan akhirnya kami harus membuatkannya lagi.

Dia super aktif. Lihat saja bagaimana dia menjaga si bunga yang belum mekar. Kasihan bunganya yaa … Cha Bong Gun - kucing Rani Elisabeth
Ini foto Bong Gun sedang menjaga adik-adiknya yang baru lahir. Bong Gun juga sayang pada adik-adiknya. Kalau kucing lain biasanya ketika induknya melahirkan, kakaknya juga suka ikut menyusu, tapi tidak dengan Bong Gun. Dia justru ikut menjaga adik-adiknya, walaupun Bong Gun suka nakal juga pada adiknya. Mungkin Bong Gun gemas melihat adik-adiknya yang belum bisa apa-apa, bisanya cuma bergerak-gerak tidak beraturan.

Cha Bong Gun - kucing Rani Elisabeth
Di foto ini terlihat Bong gun menggigit leher adiknya yang baru berumur 1 minggu. Saya sempat takut adiknya benar-benar terluka. Berkali-kali sudah saya lerai, tapi Bong Gun begitu lagi. Mungkin dia pikir adiknya teman bermainnya karena dia sudah lama sendirian dan sedang aktif-aktifnya bermain. Dan induknya pun cuek saja walaupun bayinya menjerit.

Cha bong gun, kucing Rani Elisabeth
Ini pose tidur Bong Gun yang paling menggemaskan. Dia itu senang tidur di tempat yang paling terlihat oleh kami. Di foto ini dia sedang tidur di meja teras tempat kami bekerja. Setelah lelah mengerjai kami, dia akan tidur dengan pulasnya sampai sore.

Sayangnya, Bong Gun ini sudah meninggal. Sebelum meninggal saya melihat giginya tanggal. Dokter bilang dia mengalami infeksi mulut. Mungkin luka pada giginya yang tanggal itu mengalami infeksi. Dia tidak bisa makan dan minum sehingga harus disuapi. Tapi Bong Gun tidak tertolong lagi. Saat hendak diinfus dia memberontak sampai menghembuskan nafas terakhirnya di usia 6 bulan lebih sedikit.

Sampai saat ini sudah setahun Bong Gun meninggal tapi saya masih menangis kalau mengingat dia di saat terakhirnya. Ini merupakan kebodohan saya, dia tidak mendapatkan perawatan yang lebih cepat. Saat saya menuliskan ini pun saya menangis mengenangnya …

Saya tidak ingin melupakannya. Semoga cerita ini bisa dimuat, dan orang lain yang membacanya benar-benar menjaga dengan baik anak kucing yang mereka punya, karena anak kucing lebih mudah sakit. Dan saat sakit, kucing cenderung tidak mau menunjukkannya pada kita.

Dengan menuliskan cerita inilah saya bisa mengenangnya.

Artikel ini sudah dibaca: 3366 kali.

Artikel pada Serial ini:KraftyIn Memoriam : BeautifulEuthanasia