This entry is part 3 of 15 in the series In Memoriam

Biasanya saya membaca kata euthanasia ini di kabar-kabar yang berkaitan dengan kesehatan. Suatu tindakan untuk menidurkan seorang yang sangat sakit untuk selamanya, atas permintaan dirinya sendiri maupun kerabat dekatnya.

Atau, seperti yang saya lihat di film seri Little House, puluhan tahun lampau. Ketika Pa Ingalls terpaksa harus menembak mati kuda kesayangan Laura karena sangat sakit. Dan membuat Laura kecil berlari menjauh, sambil menangis, menutup kedua telinganya dengan telunjuk, meski tak urung dia tetap mendengar letusan itu.

Saya paham betul apa makna dari tindakan itu. Di satu sisi dianggap melanggar hukum Tuhan, di sisi lain demi kemanusiaan dan merupakan pilihan seseorang untuk meneruskan ataupun menghentikan hidupnya.

Tidak ingin membahas sikap saya tentang euthanasia. Tapi saya baru saja melakukan, tepatnya meminta dokter melakukannya.

Kucing itu tergeletak di pembatas jalan. Kepalanya tegak, tapi tubuhnya tampak lemas, loyo. Dia berusaha mengangkat tubuhnya ke atas trotoir.

Segera saya berputar di U-turn terdekat, yakin bahwa saya akan membatalkan acara yang sedang saya tuju. Dan mengarahkan mobil saya ke kucing itu.

Benar saja. Ketika saya akhirnya mendekat, tampaklah badannya yang separuh seperti tidak bertulang. Dia. Baru saja. Tertabrak.

Ah!! Tertabrak. Ditabrak. Sengaja dan tidak sengaja. Tidak ada artinya bagi saya.

Mustahil si pengemudi (mobil, kalau saya lihat keadaan si kucing) tidak merasa bannya melindas sesuatu. Dan jalan itu bukanlah jalan yang ramai, sehingga semestinya si pengemudi berhenti dan memberikan pertolongan.

Saya berusaha mengangkat kucing itu. Tapi dia begitu kesakitan, agaknya. Dua kali jari tangan saya digigit. Satu jari sampai tembus.

Seorang tukang bakso dan dua orang tukang ojek menghampiri saya. Berusaha membantu saya menenangkan kucing itu.

“Tadi yang nabrak sempat berhenti bu, mau kasih uang untuk ngubur kucing itu. Tapi pas dia tau kucingnya masih hidup, dia kabur.” kata seseorang, saya tidak tahu apakah itu tukang ojek atau tukang bakso.

Anak saya di mobil berteriak-teriak meminta saya masuk mobil dan segera ke dokter untuk mengobati luka saya. Tapi saya hiraukan. Kucing itu lebih penting.

Akhirnya kucing itu berhasil masuk ke dalam tikar yang sengaja saja gelar di depannya untuk membungkusnya. Untungnya anak saya mau memangku kucing itu, walaupun dia takut akan mengalami hal yang sama dengan saya.

Dokter hewan yang menerima kami mengernyitkan kening ketika melihat kucing itu. Pinggang ke bawah tidak bereaksi sama sekali. Tapi ketika kepalanya disentuh, si kucing mengamuk. Dia pasti sangat kesakitan.

Ketika hasil rontgen keluar, saya merasa mual, dada saya sesak, mendadak keringat dingin membasahi baju. Hasilnya sangat tidak bagus.

Tadinya saya membayangkan patah tulang si kucing dapat disembuhkan. Akan tetapi…

“..ibu, mari lihat. Ini sangat tidak bagus. Tulang kaki dan pahanya hancur, jadi serpihan. Tulang panggulnya juga. Sehingga sambungan tulangnya keluar,” jelas si dokter sambil menunjukkan hasil rontgen, yang saya sendiri sebenarnya bisa membacanya. “Yang paling parah ini, bu…” lanjutnya sambil menunjuk tulang-tulang punggung sampai ke pangkal ekor, “Tulang punggung bagian bawah hancur.”

Tidak perlu mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Tapi saya memaksakan diri untuk tetap membiarkan dokter itu berbicara.

Saya tahu benar apa yang terjadi jika tulang punggung bagian bawah rusak, saraf juga rusak. Padahal salah satu fungsi saraf-saraf di bagian itu adalah untuk mengatur saluran pembuangan, kecil dan besar.

“Jika saraf bagian ini sudah hancur, bu, maka dia tidak akan bisa sembuh.”

Saya tahu. Bahkan tungkainya pun tidak bisa disambung lagi. Dan kemudian ditambah dengan matinya saraf…

Untuk buang air kecil saja dia harus dibantu. Jika tidak dikeluarkan dalam tiga hari ginjalnya akan rusak. Dia akan sangat kesakitan. Dan akhirnya mati. Mati dengan kesakitan.

“Bagaimana, bu?” tanya dokter itu. Menyadarkan saya bahwa selama dia berbicara, tangan saya memegang kepala saya erat-erat. Saya masih tidak bisa percaya ada orang yang sedemikian keji meninggalkan makhluk yang terluka itu begitu saja. Ya tentu saja ada banyak orang-orang seperti itu, saya tahu.

“Bagaimana kalau pilihannya euthanasia, dokter?” tanya saya selang beberapa saat.

Saya tahu, pilihan saya benar. Tapi tetap saja terasa salah.

Saya membebaskannya dari rasa sakit. Tapi saya yang membunuh kucing itu.

Dicopy-paste dari blog http://ikaardina.com/2012/05/09/euthanasia/ dengan seizin blogger Ika Ardina

Artikel ini sudah dibaca: 10255 kali.

Artikel pada Serial ini:In Memoriam : KesyaCha Bong Gun, rajin menjaga adiknyaIn Memoriam: Mummon