This entry is part 8 of 15 in the series In Memoriam

Saya punya kucing, namanya Empus (gak ada nama lain sih!). Empus ini saya pungut dari tempat sampah. Waktu itu umurnya 1,5 bulan.

Empus punya banyak sekali kekurangan dibanding kucing kampung lainnya, apalagi kucing ras. Matanya belekan dan hampir buta, bulunya transparan dan rontok, kaki belakangnya juga bengkok. Walaupun Empus kucing yang jelek, saya tetap menyayanginya.

Saya bersama Empus hanya 1 bulan pada saat bulan Ramadhan. Sehari sebelum Empus meninggalkan saya, saya dibelikan seekor kucing persia yang lucu dan imut-imut oleh ayah saya yang saya beri nama Rocky (sampai saat ini Rocky masih menemani saya).

Saya lalu dimarahi oleh ayah dan ibu saya, kenapa saya mau saja dibelikan Rocky karena saya tak akan sanggup mengurus 2 kucing sekaligus. Kemudian saya mengurung diri di kamar, dan kucing-kucing saya berada di kandang.

Ayah saya menaruh Empus di teras rumah, dan ayah saya tidak tahu kalau Empus mempunyai kebiasaan berjemur di depan pagar pada pukul 10-11 pagi. Ayah saya dengan terburu-buru mengeluarkan mobil, dan tiba-tiba saya mendengar orang berteriak, “Ada kucing tertabrak! Ada kucing tertabrak!” Ketika saya melihatnya … astagfirullah, Empus! Empus yang tertabrak!

Saya tertegun melihat Empus kejang-kejang, dan akhirnya diam sama sekali. Saya menangis seharian. Sewaktu saya melihat Rocky, saya teringat Empus. Saya berjanji pada Empus, saya akan merawat Rocky sebaik-baiknya.

Sekarang saya memelihara seekor kucing kecil yang mirip dgn Empus yang saya beri nama Lupus. Lupus ini penurut, tetapi dia tidak cacat. Lupus dan Rocky hidup rukun, damai selalu.

Empus, terimakasih … saya dapat mengurus kedua kucing ini dengan baik, dan saya telah memenuhi janji saya….

rocky18@xxx.bolehmail.com – 3 Juli 2001

Artikel ini sudah dibaca: 4293 kali.

Artikel pada Serial ini:In Memoriam : Ginger