In Memoriam : Ginger

Ginger ini bukan nama rempah-rempah, tetapi nama salah satu kucing peliharaan yang paling dicintai keluarga kami. Dia adalah kucing kampung biasa dengan tubuh yang sangat besar dan karakter yang agak sulit dikendalikan.

Hobinya adalah mencari kucing jantan lain sebagai musuh dan mengadu kekuatan dan entah kebetulan atau tidak, Ginger selalu memiliki musuh-musuh ‘reguler’ yang sengaja datang ke rumah untuk ikut meminta makanan dari kami dan berkelahi dengannya.

Kami sangat mencintai si pemarah ini, walaupun harus sering-sering mencuci tirai yang (maaf) dikencinginya apabila ia marah karena dikurung di dalam ruang tamu supaya tidak berkelahi.


Di balik sifat keras kepala dan pemberang itu, Ginger Garry Garfieldio Lineker (Garry Lineker adalah pemain bola terkenal dari Inggris era 80-90-an) adalah kucing yang manis; ia senang sekali duduk tenang di pojokan dapur menunggui mama memasak, dan ia bahkan pernah menemani aku yang menangis karena masalah cinta monyet, dengan wajah yang sangat sabar!

Ginger si Badung membawa kebahagiaan di tengah keluarga kami selama sekitar lima tahun, sampai di suatu sore aku mendapati dia terbaring di depan rumah dengan lidah terjulur dan kesulitan bernafas. Tidak ada darah menetes dari tubuh kuatnya, walaupun beberapa anak tetangga menyampaikan bahwa beberapa menit yang lalu sebuah mobil ngebut menabraknya.


Setengah jam kami menungguinya dan menatap matanya yang terus memandang ke arah kami, sampai nafasnya berhenti. Berhari-hari setelah kejadian itu kami masih terus diliputi kesedihan – mama bahkan menangis bila melihat tempat mangkal Ginger di dapur, atau bila ia menggoreng ikan kesukaan Ginger… Kini di atas kuburnya tumbuh sebuah pohon, dan aku kadang berpikir apakah itu adalah hadiah Ginger bagi kami…

Prita Dewi
pdewi@xxx.com

Artikel ini sudah dibaca: 4982 kali.