This entry is part 5 of 15 in the series In Memoriam

Ini bukan nama bumbu masak loo…tapi nama kucing saya.

Kira kira 2 tahun yang lalu saya mempunyai kucing yang bernama Minoe. Ia adalah kucing yang tegar, baik dan sedikit nakal. Setiap hari kami bermain bersama Minoe. Kami sangat menyayangi kucing yang satu ini. Abis dia anteng sih kucingnya, tapi kurang bumbu (kami biasa memanggilnya itu). Dia suka nyelonong masuk rumah lewat pintu jika kami baru pulang dari jalan-jalan. Nah, dia punya anak yang dinamai Farine De Bleu. Mereka sering bermain bersama sama seperti layaknya ibu dan anak manusia.

Spicy pernah sekarat karena penyakit otak menyerangnya. Tapi dia tetap tegar. Spicy sering membawakan ”mainan” untuk anaknya. Seperti belalang dan bermacam binatang kecil lainnya. Tempat mojoknya ada di sudut kamar saya yang hangat.

Tapi pada tgl 30 Oktober 2000, ketika kami pulang ke rumah, pembantu saya bilang dia sudah mati. Kontan saya menangis. Orang tua saya pun sedih. Saya tidak tahu apa benar kucing itu mati atau dibuang, entahlah. Saya selalu sedih setiap melihat kalung bekasnya. Pembantu kami sepertinya tidak memberinya makan selama seminggu penuh. Langsung saja pembantu yang tidak sopan itu keluar.

Sekarang, Minoe pasti berada di Surga bersama teman-temannya yang lain. Ketika saya menanam sebuah bunga di atas kuburannya, bunga itu pun tumbuh indah. Mungkin ia mau memberi kami sesuatu yang dapat dikenangnya dari dia.

Selamat bermain di negeri awan Minoe Spicy Farlene yang kusayang… Kami semua merindukanmu…

Ella – 29 May 2001
latetri@xxx.net.id

Artikel ini sudah dibaca: 3520 kali.

Artikel pada Serial ini:In Memoriam: MummonIn Memoriam : Elmo & VeroTom, si kucing cerdas