This entry is part 14 of 14 in the series Kucing Pembaca

Baru sebulan yang lalu saya dan suami mengadopsi Ipem (betina usia 4 bulan) berkat salah satu situs perbelanjaan ternama di Indonesia. Dari sekian banyak iklan yang menawarkan banyak kucing lucu, kami melihat salah satu iklan yang membuat kami lumayan cukup terkejut karena harga yang terpampang cukup murah sekali untuk sekelas kucing peranakan persia-kampung, 50.000 rupiah. Mungkin hal inilah yang membuat kami sangat tertarik untuk mengadopsi Ipem karena si pemilik sebelumnya hanya menginginkan kasih sayang untuk kucingnya kelak bukan untuk keuntungan semata.

Awalnya, saya cukup berat untuk memelihara kucing lagi karena sebelum saya menikah, saya sempat memiliki kucing peranakan persia-kampung (jantan) yang saya beri nama Item. Terus terang saya menjadi trauma memelihara kucing karena saya harus kehilangan Item karena penyakit prostat yang dideritanya. Kendala berikutnya kami berdua bekerja dari pagi hingga sore bahkan menjelang malam baru tiba di rumah. Sepengetahuan saya, kucing itu makhluk yang manja jadi harus penuh dengan perhatian selalu apalagi masalah BAB dan BAK nya.

Suami saya sedikit mengikis keraguan saya untuk mengadopsi si Ipem dengan semangatnya untuk kopi darat menjemput si Ipem dengan sepeda motor di rumah pemilik sebelumnya di daerah Cilodong, Cibinong. Jarak yang lumayan cukup jauh dari daerah tempat tinggal kami di Lenteng Agung, Jaksel. Sesampainya di sana, kami hanya bertemu Ibu sang pemilik. Ternyata di sana banyak juga kucing peliharaan yang lain. Mayoritas kucing betina dan hanya terdapat satu kucing jantan. Oleh karena itu, pemilik berniat menghibahkan salah satu kucing betinanya dan tak berniat untuk menjualnya.

Takjubnya, ketika kami sudah mau mengakhiri kunjungan, si Ipem langsung mau dielus-elus oleh suamiku padahal waktu di gerbang ia tampak acuh. kepergian si Ipem dihantarkan oleh hampir semua anggota keluarga sang pemilik. Kami juga melihat, salah satu adik pemilik menciumnya terlebih dahulu sebelum kami pergi. Alhamdulillah…ucapku dalam hati, karena si Ipem dahulu telah dirawat dengan kasih sayang yang cukup oleh pemilik sebelumnya.

Sepanjang perjalanan, si Ipem hanya me-ngeong kecil di dalam kandangnya lalu saya menenangkannya dengan cara mengelus dan berkata, “sabar ya sebentar lagi sampai.” Dalam perjalanan Ipem cukup kooperatif sekali, ia terlihat tidak terlalu setres. sesekali ia merubah posisi duduknya saja.

Setibanya di rumah, kami langsung membiarkan Ipem keluar dari kandang dengan sendirinya dan saya langsung menawarkannya untuk makan serta minum. Sedangkan suami menyiapkan cat litter. Walaupun pada awalnya Ipem cukup bingung akan lingkungan barunya, alhamdulillah hanya dalam dua hari ia sudah mulai mengenal lingkungan barunya.

Kekhawatiranku dimulai lagi saat weekday tiba. Dimana kami harus meninggalkan si Ipem sendirian di rumah yang di kunci dari pagi hingga sore menjelang malam. Tetapi suamiku kembali menenangkanku agar selalu berpikir positf bahwa tindakan ini dapat memberikan pelajaran berharga bagi si Ipem kalau kedua Tuannya sedang mencari nafkah untuk perawatannya juga. Kesan pertama kali ketika ditinggal, Ipem me-ngeong keras sambil berlari kearah pintu rumah lalu menaiki jendela dan menatap kearah kami yang sudah di luar. Melihat itu, saya pun tak tega. Tapi mau bagaimana lagi.

Alhamdulillah, kecemasan saya hilang sepanjang hari itu. Saya tidak terlalu memikirkan bagaimana keadaan si Ipem ditinggal sendirian di rumah. Sepulangnya saya, Ipem ternyata kucing yang amat mandiri. Ia terlihat sangat antusias menyambut kepulangan saya lalu suami saya. Sehabis itu setiap kepulangan kami, ia selalu mengajak kami bermain bersama. Kami juga berhasil men-training Ipem agar tak selalu menggunakan cat litter (pasir zeolite) untuk BAB dan BAK. Saat ini Ipem sudah mengerti jika cat litter sudah penuh maka ia akan ke kamar mandi dengan sendirinya. Walaupun belakangan hari ini, kamar mandi telah menjadi salah satu tempat bermain favoritnya. Ternyata ia bukanlah seperti kucing-kucing biasanya, Ipem kucingku yang mandiri dan berani terhadap air. Hehehe…

Kiriman: Eka Frieda

Artikel ini sudah dibaca: 3703 kali.

Artikel pada Serial ini:Elsa, The British Shorthair