This entry is part 10 of 14 in the series Kucing Pembaca

Kisah si Anak Baru ini dikirimkan oleh Rani Elisabeth yang juga pernah memiliki kucing bernama Cha Bong Gun(-Ed)

Hari itu, 28 Juni 2013, aku ke warung makan langganan. Si pemilik warung senang bukan main waktu aku datang, karena ada kucing remaja (6-8 bulan) yang katanya ketabrak kemarin. Dia gak bisa jalan, sepertinya kaki belakangnya yang ketabrak, jadi seharian dia cuma bisa ngesot. Pemilik warung minta aku untuk merawat kucing itu. Bukannya mereka ga mau tanggung jawab, tapi warung itu super sibuk dan kucing itu sering ketendang secara gak sengaja karena banyak orang lalu lalang.

Kucing itu jinak sekali walaupun sama orang baru. Lalu aku cek kakinya patah atau tidak dengan mencubit telapak kakinya pelan, ternyata tidak patah karena dia bisa menarik kembali kakinya. Aku coba berdirikan dia. tapi dia langsung terkapar lemas lagi. Dan bulunya kotor banget, mungkin karena dia ngesot.

Pemilik warung minta aku membawa pulang kucing itu karena kasihan. Tapi di rumah ada kucing kembang telon, induk semua kucing, dan anaknya (yang bayi sekarang udah besar) yang ada di rumahku, galaknya setengah mampus. Kurasa dia gak akan suka ada anak baru di rumah. Aku ragu bawa kucing ini pulang. tapi ga tegaaaaaaaaa … sumpah gak tega banget. Mamaku juga gak suka aku bawa pulang kucing lagi. Tapi akhirnya dengan tekad bulat, aku mengajak adikku untuk membawa kucing itu pulang.

Lalu kucing itu aku bawa ke dokter dan setelah tiba disana, dokternya lagi rame pasien. Kebetulan dokternya kenal aku dan dia tanya kucingnya kenapa. Aku bilang ke dokternya, kalo kucing ini ketabrak dan akhirnya dokternya mau mendahulukan aku tanpa kuminta. Sepertinya dokter itu sempat berpikir kalo aku yang nabrak. tapi aku gak langsung paham karena dokternya tidak menanyakan secara langsung juga, hanya tersirat.

Tindakan pertama yang dilakukan dokter itu adalah memberikan obat cacing yang 15 menit kemudian, kucing itu memuntahkan obat cacing tersebut bersama 3 ekor cacing gelang yang masih menggeliat.

Diagnosis dokter : gak ada yang patah, cuma memar dan trauma otot jadi belum bisa berdiri, juga cacingan dan kurus. Tapi yang aku khawatirkan, menurut dokter ada saraf yang luka. Dokter lalu memberikan vit B1 untuk memperbaiki saraf yang luka. Dokter itu baik banget, dari segala tindakan yang dia berikan mulai dari mendahulukan aku gak pakai antri, pemberian obat cacing (2x karena yang pertama dimuntahkan), injeksi vitamin dan penguat otot, pemeriksaan menyeluruh, sirup multivitamin untuk otot dan 10 kapsul vitamin B1, beliau cuma men-charge biaya 20.000 aja total!!

Aku dan adikku mencari kardus yang masih baik dan meletakkannya dalam posisi tidur, jadi bukaan kardus itu menghadap samping dan bukannya ke atas, supaya si kucing itu tidak merasa terkekang dan bisa memantau kondisi di sekitarnya.

Perjuangan berat kami dimulai karena dia susah makan. Dibelikan ikan asin pun dia tidak mau walaupun jelas sekali dia keliatan lapar. Dia juga menggigit dan mencakar kalau aku paksakan makan. Seringkali jariku berdarah karena digigitnya, belum sembuh sudah kena gigit lagi T____T

Aku berpikir keras sampai akhirnya aku menemukan cara jitu memberinya makan tanpa mengorbankan jariku, yaitu dengan melumat daging ikan rebus yang diberi kuah rebusannya sedikit lalu diperas hingga menjadi jus ikan (hoekk). Jus ikan tersebut dimasukkan ke dalam mulutnya dengan bantuan suntikan yang sudah tidak ada jarumnya. Di luar dugaan, dia menyukainya.

Karena kaki belakangnya lumpuh, dia pup dan pee di kardus itu. jadi aku harus mencuci selimutnya setiap hari dan menjemur kardus itu setiap pagi sementara dia juga kujemur (saran dokter).

Seminggu kemudian kucing itu yang kuberi nama Anak Baru, setelah perjuangan panjang yang berdarah-darah, menunjukkan kemajuan. Dari yang tadinya hanya berbaring tanpa bisa berpindah tempat, sekarang sudah bisa merangkak keluar dari boxnya dan menunjukkan perkembangan yang semakin baik setiap harinya. Dia mau makan sendiri tanpa harus dijus dulu. Dia juga sudah bisa jalan, tapi masih kurang stabil dan sering jatuh. Gerakannya juga masih belum bagus. Aku takut sarafnya lambat sembuhnya. Tapi syukurlah dia kucing yang benar-benar aktif, walau jatuh langsung bangun lagi dan mengejar orang rumah untuk minta makan.

3 hari lalu, 12-Juli-2013, dia menghilang. Biasanya kalau aku pulang kerja dia selalu menghampiri sambil mengeong-ngeong minta makan, hari itu tidak. Aku mencarinya kemana-mana. Hari sudah gelap dan aku tidak bisa menemukannya. Aku berpikir, seandainya dia dengar dia pasti mengeong, itu sudah pasti. Aku berpikir kemungkinan terburuk kalau dia terlindas karena di depan rumah ada truk parkir dan tetangga sebelah punya mobil. Malam itu hujan deras sekali hingga hampir pagi. Aku cemas sampai tidak bisa tidur dan sering keluar sambil berharap dia meringkuk di depan pintu rumah menunggu ada yang membukakan pintu. Aku hampir menangis setiap kali aku membuka pintu depan rumah dan melihat dia tidak ada. berkali-kali kucari dan kutelusuri selokan di depan rumah, berharap dia mendengar aku datang dan mengeong, tapi tidak ada suara apapun.

Aku mulai putus asa, dan mencari di bawah mobil, di bawah truk, dan di jalanan. Kakinya masih lemah, seandainya ada kendaraan lewat atau mundur, dia tidak akan bisa menghindarinya. Begitulah pikiranku. aku berkeliling lagi. Aku mencari mayatnya, tapi tidak kutemukan juga.

Aku tertidur karena lelah, panik dan cemas. Paginya aku bangun pagi-pagi sekali, pergi keluar rumah dengan harapan terakhir melihat dia di depan pintu rumah. Tapi tidak ada juga. Kemudian aku memutuskan mencari mayatnya lagi, atau darah atau apapun yang tersisa. Tapi malam itu hujan, jadi tidak mungkin ada bekas darah.

Aku keluar rumah dan membawa anak kucing yang satu lagi jalan-jalan. Sedih dan cemas, juga berpikir yang tidak-tidak. Aku telusuri lagi selokan di depan rumah, tapi tidak ada. Lagi pula jika hujan deras, biasanya selokan terisi air sampai penuh. Kalaupun dia jatuh ke selokan pasti hanyut.

Aku sudah benar-benar pasrah dan berpikir tidak akan bertemu dengannya lagi. Hanya saja karena pikiranku sedang buntu, aku menyusuri selokan tanah sebelah rumah. Tanah itu masih kosong dan belum ada bangunannya. Banyak tanaman liar yang tinggi-tinggi di dalam selokannya. Tanpa maksud apapun, aku menyibak tanaman-tanaman itu untuk melihat ke dasar selokan. Tidak juga bermaksud mencari Anak Baru, benar-benar hanya iseng saja.

Dan aku melihat sekelebatan sesuatu berwarna abu-abu. Sesuatu itu punya sepasang mata dan menatap saya. Lalu sesuatu itu mengeong, dan aku tersadar, itu Anak Baru !!!! Anak Baru!!!!

Menyadari kalau itu aku, kucing itu mengeong, menjerit, meminta tolong supaya dikeluarkan dari situ. Sebenarnya selokan itu dalamnya hanya 50 cm, tapi dia tidak bisa berlari, apa lagi melompat untuk keluar dari situ. Aku langsung panik dan menjerit memanggil ibuku. ibuku dengan panik keluar dan menghampiriku sambil berteriak, “Ketemu????” yang beliau maksudkan adalah si Anak Baru.

Walau awalnya beliau tidak suka aku merawat kucing liar, pada akhirnya dengan kelucuan dan kelincahan Anak Baru berhasil merayu ibuku supaya menyayanginya. Waktu aku mencari-cari sepanjang malam, ibuku tampak tidak terlalu banyak reaksi, tapi dalam hati mungkin beliau juga cemas.
Anak Baru kecebur Got
Dengan panik dan gemetaran, kuangkat dia dari sana. Dia juga sama gemetarannya denganku dan langsung menempelkan kepalanya pada telapak tanganku. Ibuku berlari mengambil handuk kering untuk menyelimutinya karena dia basah kuyup dan kotor. Kubawa dia ke rumah dan kuberi makan ikan kesukaannya lalu kuhangatkan air untuk memandikannya. Sambil mengusap badannya dengan handuk, aku menangis penuh syukur, di saat aku benar-benar hampir putus asa, Tuhan menunjukkan jalan-Nya. Kupikir cerita seperti ini hanya bisa kutemui di buku-buku cerita, tapi ini nyata kualami sampai nyaris tidak percaya.

Gambar ini adalah kondisi Anak Baru setelah diangkat dari selokan dan sedang diberi makan. Mirip sekali tikus got dengan ekornya yang basah kuyup itu.

Ternyata setelah dicek lagi, selokan itu memiliki rumput dan tanaman liar yang tinggi-tinggi. Anak Baru tidak hanyut karena tersangkut di tanaman-tanaman itu, dan aku bersyukur sekali karenanya.

Artikel ini sudah dibaca: 4733 kali.

Artikel pada Serial ini:Molly & Poppy : Setia Menanti di Depan Pintu RumahOreo si tangguh yang mengalahkan dewa kematian